L
Kau berbeda. Di balik diammu, kau menyimpan berjuta rahasia. Di balik kelemahlembutanmu, kau menyimpan beribu-ribu amarah yang kau pendam setiap saat. Seringkali aku mendengar kau mendesis kesal, namun kau lebih memilih diam daripada harus melampiaskan. Karena aku tahu, kau tak suka keributan.
Sebab itulah aku selalu memperhatikanmu. Kau berbeda dari gadis lain. Mulutmu lebih banyak diam daripada mengeluh ini itu. Matamu hanya kaubiarkan memandangi sederet angka penjumlahan dan pembagian metafisika. Tak ada yang lain. Kau tak sembarangan melempar tawa. Humormu… terkadang kau lebih pintar melawak daripada aku, padahal aku yang lebih banyak cerewetnya daripada kau. Otakmu kaubiarkan bekerja lebih banyak daripada mulutmu. Itulah pesonamu, tanpa dibuat-buat.
Tanpa kausadari, aku selalu melihatmu dari belakang, di bangku nomor dua ini. Setiap kali aku bosan mendengar ocehan guru yang tiada habisnya membikin otak ini semakin berdenyut, hanya kaulah satu-satunya penawar “racun” itu. Otakku seolah teraliri sesuatu yang seketika membuatku bahagia, seolah lupa aku sedang ada di mana. Walau mata ini hanya bisa memandangi punggungmu yang tersibak rambut kuncir kudamu, namun aku sudah cukup senang.
Dibanding gadis lain, dandananmu sangat sederhana. Tidak pakai bandana dan jepit serta bibir merah merona, hanya rambut belah tengah yang disisir dan dikuncir menyerupai ekor kuda, sehingga jidat jenongmu seperti landasan pacu udara. Kau juga tak suka membawa sisir, cermin, bedak, dan alat kosmetik lainnya yang biasa ada dalam tas setiap siswi. Isi tasmu hanyalah buku-buku pelajaran tebal dan kotak pensil. Kau sangat cuek dalam berias. Tetapi entah mengapa, kau tetap saja menarik di mataku.
Sosokmu dihapal semua guru karena prestasimu. Hampir semua mata pelajaran kau selalu mendapat nilai sempurna. Kau adalah bintang di kelas kami. Dan kami, khususnya aku, bangga memilikimu.
Suatu hari kau pernah membuatku terpapar energi cinta yang menyengat, sama panasnya dengan guyuran panas matahari di atas jengkal kepala. Kau tampil berbeda. Rambut yang selalu kau kuncir itu, kau biarkan terurai sampai bahu. Belah tengah yang selalu menjadi identitasmu, kini sisir semuanya ke belakang dengan jepit rambut sebagai pengikatnya. Aku tak tahu bagaimana cara untuk mendefinisikan penampilanmu. Yang pasti, kau terlihat berbeda. Aku jatuh cinta padamu.
Aku, seorang murid yang paling dibenci guru, yang memiliki track record prestasi buruk. Tak pernah absen dalam membolos, lebih memilih bermain daripada belajar padahal ujian tinggal sebentar lagi. Murid nakal yang menjadi pelopor murid-murid nakal lainnya. Terlalu delusional bila aku mengharapkan bisa mengencanimu, sosok yang sempurna dan mungkin menjadi idaman semua laki-laki. Kau adalah harapanku yang terlalu tinggi.
**
P
Bagaimana bisa aku melihatmu kalau kau selalu duduk di balik punggungku. Kau tahu, begitu tersiksanya diriku saat sehari saja aku tak memandangimu. Aku harus memutar badanku dulu untuk bisa melihatmu tertawa dengan sekawananmu. Itu pun aku sudah menjaga agar matamu tak melihatku. Karena tabrakan terdahsyat dalam hidupku adalah ketika tanpa suara, pandanganku dan pandanganmu bertemu. Diam-diam, aku memperhatikanmu ketika kau tertawa, karena tawamu adalah sumber bahagiaku. Celetukanmu membuat kelas semakin hidup.
Walau kau murid nakal, tapi aku memandangmu sebagai sosok yang baik hati. Kau memang suka membuat ulah, tetapi kau tak sampai berani menyentuh hal haram. Nakalmu masih wajar. Kau hanya butuh perhatian dan banyak teman untuk berbagi kisah hidupmu yang mungkin teramat pahit. Kau hanya butuh teman cerita dan juga tawa.
Jika kau membuka lowongan untuk orang yang bersedia mendengarkan keluh kesahmu, aku menjadi orang pertama yang melamar.
Tanpa kausadari, aku selalu merindukanmu di setiap detik waktuku menyambut senja. Kupandangi langit atap dan membayangkan wajahmu seperti slide di sebuah film. Hembusan angina malam membawa pesan rinduku padamu yang entah tersampaikan atau tidak. Mendengarkan lagu yang mampu mengusir rasa rinduku, tetapi itu justru semakin menambah beban rinduku padamu. Hanya dua minggu libur, aku merasa menjadi sosok hampa yang tak bisa hidup tanpamu.
Mungkin, aku terlalu muda untuk bisa berpikir tentang cinta. Aku masih terlalu awam untuk mengetahui esensi cinta. Yang kutahu, cinta itu mengagumi. Mengagumi semua sisinya. Melihat yang buruk menjadi baik. Tersiksa saat saling tatap. Mengaguminya dalam hati: Oh Tuhan, aku mencintainya.
Satu hari, kau datang padaku membawa sejumput tanda tanya. Kau memintaku untuk menjadi guru privatmu karena nilaiku yang selalu sempurna. Aku merasa kesulitan ketika harus mengajari seseorang, karena sungguh sulit membuat orang mengerti apa yang telah kumengerti. Aku hanya memberimu catatan yang setiap harinya aku tulis, berharap kau bisa memahaminya sendiri.
Aku senang, akhirnya keberadaanku diakui. Kau melihatku tanpa ada halangan. Kau melihatku di sini dengan jelas.
Sampai interaksi kami telah hanyut begitu dalam. Aku pun mulai menyadari bahwa aku telah jatuh hati padamu. Bukan aku yang memilihmu untuk kucintai, melainkan hatiku yang telah memilihmu. Dan kau tahu, hati adalah satu-satunya organ batin yang tak bisa berdusta.
**
L
Aku selalu membawa cermin setiap kali aku bertatap denganmu. Melihat ke dalam diriku yang tinggal separuh, separuhnya lagi telah kupertaruhkan padamu. Setiap detik berinteraksi denganmu kulalui dengan penuh ketabahan. Kedahsyatan energi cinta yang kauberikan beberapa kali membuatku koit, namun beruntung aku masih bisa bangun.
Catatan itu menjadi perantara tanganku dengan tanganmu bergandengan tangan. Walau tak sampai hati menyentuhnya, namun aku sangat senang bisa memiliki bendamu untuk sementara. Tulisan tegak rapat-rapat dan berukuran kecil-kecil. Tak perlu wajahmu untuk menjadi penawar rindu, membaca tulisanmu saja sudah cukup mengobati hati yang merindu.
Aku senang memperhatikanmu saat kau sedang gugup. Matamu tertunduk lemah saat melihatku berdiri di depanmu. Atau, saat kuhampiri mejamu untuk mengembalikkan atau meminjam catatanmu yang lain. Aku tahu saat itu kau sedang lelah. Lenganmu kaujadikan sandaran layaknya bantal di meja. Dan kau, seolah enggan melihat wajahku yang telah lama mencari rumahnya. Kau berbicara tanpa melihatku. Aku bertanya dan kau menjawab.
Aku sering mendapati dirimu tengah menatapku. Di sela-sela detik aku rehat tertawa bersama mereka, aku melihatmu dan kau langsung menunduk kalah. Baru setelah itu aku menyadari bahwa kau terlewat pemalu. Namun itulah yang membuatmu terlampau istimewa.
**
P
Kali ini, aku bisa melihatmu dari sudut yang sejajar. Tidak dari depan ketika aku harus memutar tubuhku. Bukan pula dari belakang ketika aku hanya menikmati punggungmu. Namun, aku melihat rautmu berbeda kali ini. Tak ada keceriaan yang biasa menghiasi wajahmu. Tak ada celetukan yang biasanya mengundang tawa kami sekelas. Kau tampak lesu. Tak ada pula kawan-kawan yang mengelilingimu. Kau murni sendirian.
Ada apa? Tampaknya kau sedang letih. Bukan sembarang letih biasa. Sehari-hari kau hanya tiduran beralaskan dua lenganmu. Duduk tak sedikit pun beranjak dari kursimu. Kau merenungi sesuatu dalam gelap dekapan kedua tanganmu. Ada apa? Apa kau sakit? Wajahmu tampak pucat. Aku mengkhawatirkan keadaanmu. Sungguh.
“Nanti selepas kelulusan, aku mau bilang perasaanku ke dia,” ucapku lepas kepada mereka, sahabat-sahabatku. Mereka langsung terlonjak kaget mendengar pernyataanku yang memang sangat mengejutkan. Seorang pendiam dan pemalu sepertiku, memiliki nyali yang tak semua orang miliki: menyatakan perasaannya kepada seseorang yang ia suka.
“Yakin?”
“Serius?”
“Ah, yang bener?”
“Janji ya!”
Beragam respon yang kudapat namun memiliki makna yang sama. Aku tahu mereka begitu ragu, karena dari ucapanku yang memang terdengar tidak seratus persen yakin.
“Ya,” sahutku,”kalau aku masih suka.”
Aku berharap mereka lupa dan tak menagihku kemudian hari. Dan benar, aku sungguh tak melakukan apa yang telah kuucapkan. Entah mengapa, perasaan itu tak lagi sehebat ketika awal tahun ajaran baru. Saat aku memandangmu, tak ada gejolak yang kurasakan, tidak seperti dulu saat aku harus menutupi rapat-rapat pandanganku agar tak bertatap denganmu. Agar tidak ketahuan. Tetapi semua berubah, ketika kau datang lagi usai kami resmi berpisah.
**
L
Aku tahu intensitas pertemuanku denganmu sekarang tak sesering dahulu ketika kami masih satu kelas. Aku dan kau sudah berbeda sekolah dengan level yang berbeda pula. Kau telah mendapatkan sekolah yang telah lama kau impikan, sebuah sekolah yang memang pantas ditempati bintang kelas sepertimu. Lalu aku menempati sekolah yang biasa-biasa saja, tetapi masih beruntung tidak mendapat level terendah. Oleh karena itu, sebisa mungkin aku menghubungimu. Memastikan bahwa kau… baik-baik saja.
**
P
Kau membuatku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya. Kau memang tak pandai merangkai kalimat bernada rayuan. Selera humor kita sama. Walau begitu, itulah yang membuat percakapan kita terasa murni, tak ada sandiwara. Tak ada rayuan sehidup semati. Kau membuatku menemukan jalan pulangku lagi.
Aku sudah sampai sejauh itu merindukanmu, mengharapkanmu. Ketika satu hari aku tak mendapat pesan dan kabar darimu. Barangkali memang kau lupa bahwa kau masih punya kewajiban untuk menghubungiku. Dua hari, kupikir masih sama. Tiga hari, satu minggu, berbulan-bulan, hingga berganti tahun ajaran, kau sudah tak pernah menghubungiku lagi. Jiwaku kehilangan keutuhannya. Jiwaku hilang sudah.
Selama kurang lebih tiga tahunan hatiku kosong, tak terisi olehmu. Ada separo bagian jiwaku telah kupertaruhkan kepada seseorang lain, yang kukagumi dan aku hanya bisa menikmati punggungnya saja. Separo lagi, masih kusisakan untukmu. Menunggumu kembali menempati ruang hatiku yang sudah lama kosong. Entah mengapa, aku yakin kau akan kembali pulang.
Dan benar, kau kembali setelah selama itu kau menghilang. Seperti biasa, kau bertanya dan aku menjawab, tanpa ada kontak fisik mata. Sederet huruf di layar menjadi perantara aku dan kau yang di sana. Aku tak tahu kau ada di belahan bumi mana, tapi aku yakin kau masih di bawah langit yang sama. Aku senang. Nahasnya, aku sudah telanjur kehilangan rasa.
**
L
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sudah bertahun-tahun aku tak menampakkan diri. Maaf, aku membuatmu menunggu. Aku memang sengaja menghindar agar kau tak mencariku lagi. Agar kau bisa temui orang lain yang lebih bisa membuatmu senang. Oh, apa kabarmu? Kau semakin cantik dengan penampilanmu sekarang. Auramu terpancar nyata, tak dibuat-buat. Kau tampak lebih anggun dengan balutan kain yang menutupi kepalamu. Kau masih sama seperti dulu. Kau masih lebih pintar daripada aku, dan aku tidak lebih pintar darimu.
Menapaki usia yang sudah beranjak matang ini, aku menyadari satu hal yang penting. Mencintai bukan berarti memiliki sepenuhnya. Menahan rindu bukan berarti harus bertemu. Aku memang mencintaimu. Aku memang merindukanmu, bahkan rasa ini tak pernah berubah sejak aku masih jadi berandalan kelas, andai kau tahu. Akan tetapi, kupertaruhkan seluruh jiwaku kepadamu. Kuserahkan rasa yang telah mengkristal di kalbu melalui bait-bait bisik puisi yang selalu kulantunkan kepada bumi. Air mataku menetes.
Semakin dewasa, aku semakin mengerti bahwa cinta adalah bentuk rasa ikhlas. Cinta, berarti ikhlas melepas dan menerima. Aku tak pernah sebegini dalam mencintai seseorang yang tak pernah kutemui sejak empat tahun lalu. Aku bertahan untuk membungkam, sejak aku masih jadi berandalan kelas.
**
P
Lelaki baik tak akan pernah berubah menjadi lelaki buruk, sekalipun dia telah dicap buruk. Lelaki buruk bisa berkesempatan untuk menjadi baik. Kau istimewa. Dan aku tahu itu sudah lama.
Aku memang tak pernah bertemu denganmu, namun aku merasa kau selalu hadir di sampingku. Saat aku makan, saat aku tidur, saat aku berkutat pada lembar-lembar deadline, aku merasa sosokmu selalu menemaniku. Aku berterima kasih kepada penemu teknologi yang mempermudahku untuk bisa berhubungan denganmu. Deretan huruf di dalam layar membuatku bisa lepas menuliskan apa yang kurasa dan kupikirkan tentang dirimu, di balik humor-humor yang tak pernah kami lewatkan. Karena dengan humor, aku tertawa. Dan, tawa adalah cara paling ampuh untuk bisa selalu merasa dekat satu sama lain.
Aku selalu menunggu responmu saat aku menuliskan sesuatu. Kau tahu, senyumku tertarik tanpa sadar ketika aku melihat namamu ada dalam daftar pesan notif. Saat kau memulai percakapan, aku tak mau ini berhenti begitu saja. Aku tak mau membalas pesan yang nantinya akan kaubalas “haha” atau hanya emotikon. Tidak, aku tidak mau. Aku ingin percakapan ini terus ada, bahkan kalau bisa tak akan menemui epilog. Tak disangka, kau pun seolah merasa hal serupa.
Lama kusadari, ternyata aku telah jatuh cinta padamu yang ketiga kalinya.
**
L
Esok adalah pertemuan akbar. Kuharap, kau datang.
**
P
Esok adalah pertemuan akbar. Kuharap, kau menghadirinya.
(***)
Hai, selamat bertemu lagi. Aku sudah lama menghindarimu, sialkulah, kau ada di sini. Sungguh tak mudah bagiku. Rasanya tak ingin bernapas lagi, dan tegak berdiri di depanmu, kini. Sakitnya, menusuki jantung ini. Melawan cinta yang ada di hati. [1]
Tak ada kata yang terucap. Saat mata ini menemui jalan setapak setelah terhalang rimba waktu, dan saat hati ini telah kembali menemukan rumahnya. Namun hal itu tak berlangsung lama. Tiga detik, cukupkan mereka untuk saling menemukan tempat tinggalnya. Lalu keduanya saling menunduk kalah.
Aku mencintainya.
[1] Maudy Ayunda – Tahu Diri