Suatu hari, di siang hari yang lumayan cerah
Waktu itu ibu dosen sudah masuk kelas, saya duduk di deretan
belakang—bukan paling, tapi hampir belakang—yang memang sengaja saya memilih
tempat belakang, karena sudah terlalu sering saya duduk di depan—ya maklum,
mahasiswanya sedikit, apalagi yang cewek cuma ada enam orang, dan kita
menyebutnya “genk sastra”. Dan, waktu itu, salah seorang personil genk kita, si
sopul, kebetulan tidak masuk karena melayat temannya di Salatiga. Jadilah kita
cuma berlima, dan cowoknya ada belasan,hahaha. Lha, saya duduk di belakang cuma
sama hestina, dan kebetulan juga hestina waktu itu presentasi, jadilah saya
(siap mental) duduk sendirian di belakang pada saat saya mau menghampiri bangku
saya.
Ternyata eh ternyata, saya pun sedikit kaget ketika temen cowok saya, yang dulu sempat saya kira
vokalisnya Letto—tapi emang mirip sih, sekilas—mari sebut saja dia si neo,
duduk menjejeri saya. Hmm.. saya pikir ini karena kita sekelompok, mata kuliah
selanjutnya di hari itu kita juga ada presentasi, dan giliran kita maju. Pikir
saya, hmm mungkin mau ngomongin tugas kita. It seems, dia yang paling
“bergairah” diantara tiga orang di kelompok saya mengerjakan tugas, karena
memang tugasnya sungguh amat sangat menyenangkan sekali., menganalisis film
psikologi. Keren kan? Y.
Si neo ini membuka percakapan dengan bertanya tentang film
tersebut. Tetapi ujug-ujug selama teman-teman saya presentasi di depan, dia
ngajakin ngobrol saya terus. Mulai dari hal yang bermutu, seperti materi
kuliah, sampai hal-hal absurd—ya dia memang orangnya agak absurd. Banyak omong.
Kadang-kadang suka ngibul, dan antara fakta dan ngibul kadang tidak bisa
dibedakan. Dia cerita banyak hal, apa yang dia ketahui, dan saya cuma
mendengarkan dengan sepenuh hati—bukan apa-apa, saya memang lebih suka
mendengarkan daripada berbicara. Karena tahu saya cuma diam, dia pun mulai
jengah. Dia bilang,”aku wonge cerewet ya?” dan saya jawab,”iyo, emang.” dan
mbatin “lagi nyadar?” wk.
Trus dia ngajak ngobrol saya lagi. Ya, saya cuma menanggapi
sebisa saya. Dan pada suatu ketika sudah tidak ada bahan obrolan, hening sekian
detik, dia ngoceh lagi. Tapi bikin saya lumayan kaget. Deg.
“Aku pengen ngerangkul kowe (saya ingin merangkulmu)”
Saya minta dia untuk mengulangi sekali lagi.
“Aku pengen ngerangkul kowe.”
Saya nggak ngomong apa-apa, dan cuma melengos. Dan dia
seperti salah tingkah, memeluk meja di depannya.
Saya nggak tau itu, apakah itu cuma candaan atau memang
serius, karena memang dia orangnya absurd, bercanda sama serius kadang susah
dibedakan. Saya cuma shock, aja….
Sekian. Cerita yang sangat absurd.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar