Rabu, 15 Maret 2017

Suatu Hari, di 14 Maret 2017

Suatu hari, di siang hari yang lumayan cerah

Waktu itu ibu dosen sudah masuk kelas, saya duduk di deretan belakang—bukan paling, tapi hampir belakang—yang memang sengaja saya memilih tempat belakang, karena sudah terlalu sering saya duduk di depan—ya maklum, mahasiswanya sedikit, apalagi yang cewek cuma ada enam orang, dan kita menyebutnya “genk sastra”. Dan, waktu itu, salah seorang personil genk kita, si sopul, kebetulan tidak masuk karena melayat temannya di Salatiga. Jadilah kita cuma berlima, dan cowoknya ada belasan,hahaha. Lha, saya duduk di belakang cuma sama hestina, dan kebetulan juga hestina waktu itu presentasi, jadilah saya (siap mental) duduk sendirian di belakang pada saat saya mau menghampiri bangku saya.

Ternyata eh ternyata, saya pun sedikit kaget ketika  temen cowok saya, yang dulu sempat saya kira vokalisnya Letto—tapi emang mirip sih, sekilas—mari sebut saja dia si neo, duduk menjejeri saya. Hmm.. saya pikir ini karena kita sekelompok, mata kuliah selanjutnya di hari itu kita juga ada presentasi, dan giliran kita maju. Pikir saya, hmm mungkin mau ngomongin tugas kita. It seems, dia yang paling “bergairah” diantara tiga orang di kelompok saya mengerjakan tugas, karena memang tugasnya sungguh amat sangat menyenangkan sekali., menganalisis film psikologi. Keren kan? Y.
Si neo ini membuka percakapan dengan bertanya tentang film tersebut. Tetapi ujug-ujug selama teman-teman saya presentasi di depan, dia ngajakin ngobrol saya terus. Mulai dari hal yang bermutu, seperti materi kuliah, sampai hal-hal absurd—ya dia memang orangnya agak absurd. Banyak omong. Kadang-kadang suka ngibul, dan antara fakta dan ngibul kadang tidak bisa dibedakan. Dia cerita banyak hal, apa yang dia ketahui, dan saya cuma mendengarkan dengan sepenuh hati—bukan apa-apa, saya memang lebih suka mendengarkan daripada berbicara. Karena tahu saya cuma diam, dia pun mulai jengah. Dia bilang,”aku wonge cerewet ya?” dan saya jawab,”iyo, emang.” dan mbatin “lagi nyadar?” wk.

Trus dia ngajak ngobrol saya lagi. Ya, saya cuma menanggapi sebisa saya. Dan pada suatu ketika sudah tidak ada bahan obrolan, hening sekian detik, dia ngoceh lagi. Tapi bikin saya lumayan kaget. Deg.

“Aku pengen ngerangkul kowe (saya ingin merangkulmu)”

Saya minta dia untuk mengulangi sekali lagi.

“Aku pengen ngerangkul kowe.” 

Saya nggak ngomong apa-apa, dan cuma melengos. Dan dia seperti salah tingkah, memeluk meja di depannya.

Saya nggak tau itu, apakah itu cuma candaan atau memang serius, karena memang dia orangnya absurd, bercanda sama serius kadang susah dibedakan. Saya cuma shock, aja….

Sekian. Cerita yang sangat absurd.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar