kamu itu anak manusia
betapa berat perjuangan ibumu mengandungmu sampai 9 bulan 10 hari
di bulan-bulan pertama, ia kesakitan, tak bisa tidur, kelelahan, tetapi ia selalu tersenyum karena baginya kamu adalah anugerah yang tiada tara
kau tak layak disalahkan
selama 9 bulan, ibumu harus berbagi ruang perutnya untukmu
bayangkan, betapa kecil perut ibumu harus terbagi lagi untuk ruang untuk menyimpanmu yang berat
kau tak pernah tahu, betapa menderitanya ibumu ketika di dalam rahim usiamu makin bertambah, ia makin kesulitan berjalan
tapi dia tak pernah mengeluh, menyalahkanmu, bahwa ini semua kaulah penyebabnya
hingga kau terlahir ke dunia, ibumu, sekali lagi, tersenyum melihatmu bahkan menangis haru dan mendekapmu seperti telah lama tak bertemu, padahal itulah kali pertamanya ibumu melihat rupamu dalan genggamannya
kau dibesarkan dengan penuh kasih sayang
ibumu tak pernah menyakitimu, tak pernah menyalahkan keberadaanmu di dunia
kamu itu anak manusia
betapa berat beban ayahmu saat ia tahu bahwa ibumu mengandungmu
kau tak pernah terpikir bahwa ayahmu telah mengemban beban pikiran banyak ketika kau bahkan masih berusia satu minggu di dalam rahim
ia sudah memikirkan pendidikanmu, kebutuhanmu, bahkan sejak kau masih berbentuk gumpalan darah
betapa berat perjuangan ayahmu, ketika ibumu menginginkan sesuatu di tengah malam, dan ia menyuruh ayahmu untuk memenuhi keinginannya saat itu juga
semua itu bukan murni keinginannya, ada sosok yang mendorong ibumu untuk segera melepaskan hasratnya, siapa lagi kalau bukan kamu
dan ayahmu pun pontang-panting berlari kesana-kemari hanya untuk memenuhi permintaanmu yang diwakilkan oleh ibumu
lalu ketika kau lahir, beban pikirannya semakin banyak, kau tak pernah menyadarinya
ia berjuang agar kau bisa segera keluar dari ruang persalinan, dengan berbagai cara tanpa kau ketahui
dan ketika tiba masanya, ia harus berada jauh dari keluarga hanya untuk memenuhi kebutuhanmu, sekolahmu, dan masa depanmu
kamu itu anak manusia
kau dilahirkan dan dibesarkan dengan kasih sayang, tetapi kenapa mereka yang hanya lewat sekejap dalam hidupmu tega menyakitimu?
ayah dan ibumu saja tak pernah menyalahkan kehadiranmu, tetapi kenapa mereka yang hanya lewat sekejap dalam hidupmu tega menjadikanmu kambing hitam?
ayah dan ibumu saja tak pernah menipumu, tetapi kenapa mereka yang hanya lewat sekejap dalam hidupmu tega mengkhianatimu?
mereka hanya orang lain, mereka bukan keluargamu
(Tragedi 19 September 2015)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar